Harga Telur Naik, Masyarakat Kota Padangsidimpuan Mulai Mengeluh

Harga Telur Naik, Masyarakat Kota Padangsidimpuan Mulai Mengeluh

LIPUTANSUMUT.COM – Masyarakat Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara kini mulai mengeluh atas naiknya harga telur australia. Pasalnya, harga eceran telur australia di kota tersebut mencapai Rp. 2.000 perbiji, yang sebelumnya harga hanya Rp. 1.500 perbiji.

Atas kenaikan harga telur dari Rp. 1.500 menjadi Rp. 2.000 ini membuat sejumlah warga mengeluh, terutama para ibu-ibu rumah tangga yang konon telur tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan sehari – hari.

N. Gultom (25) salah satu warga Padangsidimpuan yang merupakan kesehariannya sebagai ibu rumah tangga, Ia mengatakan kenaikan harga telur ini merupakan keluhan semua orang.

“Kita sangat mengeluh ya bang atas kenaikan harga telur ini, walaupun naiknya hanya Rp. 500 tetapi sangat berdampak buat keuangan belanja kita. Aturannya kita bisa hemat Rp. 500 dalam perbijinya nah.. sekarang jadi bertambah pengeluaran.”

“Telurkan sudah menjadi bahan pokok kita sehari – hari, apalagi sangat penting buat menambah nutrisi anak bang, apalagi anak mau ke sekolah butuh cepat sarapan, nah.. telurlah yang menjadi sarapan cepat saji, kalau harganya naik terus bagaimana nanti kita bisa mencukupi nutrisi anak- anak kita .” Keluh boru gultom kepada liputansumut.com, Rabu, (18/09/2018).

Sementara para sejumlah pedagang telur di Padangsidimpuan juga mengeluh, pasalnya kenaikan harga telur ini mengurangi keuntungan dan daya beli masyarakat, hal ini disampaikan Siti Ahirina Harahap (38) yang merupakan salah satu pedagang telur di pasar sanggumpal bonang.

Kepada Liputansumut.com Ahirina mengatakan harga modal telur sebelumnya hanya Rp. 1.200 sekarang mencapai Rp. 1.400 dan dijual kembali ke pengecer dengan harga Rp. 1.500, kemudian pengecer menjual dengan harga Rp. 2.000 kepada pembeli.

Ia mengatakan kenaikan harga telor ini sudah tidak sesuai dengan besarnya modal yang harus mereka keluarkan.

“Harga telur sudah tidak sesuai lagi dengan modal yang kita keluarkan, dengan naiknya harga telur ini minat beli masyarakat juga berdampak terjadi penurunan tidak seperti hari biasanya” ungkapnya, kepada wartawan, Rabu (18/07/2018).

Bukan itu saja, untuk pasokan jumlah telur juga berkurang dari jumlah permintaan dan kebutuhan masyarakat setiap harinya, dengan permintaan pasokan 1.000 biji perhari menjadi 500 perhari.

Dikataknya lagi Kenaikan harga telur ini tidak seperti biasanya, menurut biasanya harga telur naik saat menjelang Ramadhan sampai hari lebaran, kemudian sesudah lebaran baru terjadi penurunan harga lagi.

Kemudian untuk informasi kenaikan harga yang didapatkan dari sejumlah pedagang telur, dari pengepul dan peternak ayam ras dikarenakan naiknya harga pakan ternak dan dijualnya ayam petelur yang sudah berusia tua, sehingga ayam petelur yang masih berusia muda perlu proses untuk menunggu bertelur, sehingga pasokan telor sering mengalami kekosongan.

Terakhir Ahirina berharap kepada pemerintah agar harga telor ayam bisa distabilkan dengan standar harga biasanya, agar bisa lebih terjangkau masyarakat, karena bagaimanapun telur sudah merupakan kebutuhan pokok sehari – hari yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat.

Terpisah, untuk menanggapi kenaikan harga telur ini, pihak Dinas Perdagangan kota Padangsidimpuan belum bisa dimintai keterangan. (Syahrul Tanjung)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan